Rabu, 09 September 2009

Gerakan Mahasiswa ( By Regina )

TERPECAHNYA GERAKAN MAHASISWA

Diduga jadi alat kepentingan elite politik, gerakan mahasiswa kini
kehilangan dukungan moral rakyat. Benarkah sejumlah tokoh mahasiswa
hanya mengekor jalur Politik seniornya?

Gerakan mahasiswa yang pada tahun 1998 berjasa besar menumbangkan
rezim Soeharto, kini tak lagi seperkasa dulu. Mereka tidak saja
terpecah, tapi juga seringkali saling berhadap-hadapan secara frontal.
Hal yang kemudian memunculkan anggapan bahwa seolah-olah aktivis
mahasiswa sekarang hanya memperjuangkan kepentingan elite politik yang
sedang berebut kekuasaan belaka. Setiap kali terlihat rombongan massa
mahasiswa memacetkan jalan-jalan utama di Jakarta, pertanyaan
kebanyakan orang yang muncul adalah, "Ini kelompok yang pro atau anti
Gus Dur?"

Masyarakat seperti tak lagi memberikan dukungan moral sebagaimana yang
terjadi pada tahun 1998 lalu. Fenomena ini coba ditangkap oleh Far
Eastern Economic Review belum lama berselang (22/3). Dari sejumlah
wawancara yang dilakukannya dengan beberapa mantan serta tokoh
mahasiswa terlihat kesan bahwa mahasiswa semakin sulit menyatukan
agenda politiknya. Kata Wasi Gede, mantan aktivis UI yang ikut terjun
dalam demo-demo menentang Soeharto 1998, "gerakan mahasiswa bukan lagi
kekuatan bagi reformasi politik."

Tanggal 12 Maret, adalah contoh menyedihkan dari perpecahan gerakan
mahasiswa, yaitu ketika sejumlah massa yang menghendaki Gus Dur mundur
terlibat bentrokan terbuka dengan massa pendukung Gus Dur di sekitar
Istana Merdeka. Pada hari yang bersamaan sebuah mobil dibakar di depan
Kampus Universitas Atmajaya akibat bentrokan serupa. Yang paling
menyedihkan, kini muncul dugaan bahwa sebagian besar kelompok
mahasiswa yang berdemonstrasi belakangan ini menerima suap dari para
politisi, pengusaha bahkan sejumlah jenderal.

Dikabarkan bahwa para mahasiswa ini umumnya mendapat sumbangan
makanan, transportasi serta uang tunai bagi para pemimpinnya untuk mau
menggelar demonstrasi. Fuad Bawazier yang disebut-sebut sebagai salah
satu "peyumbang utama" kelompok mahasiswa anti-Gus Dur membantah
tuduhan terhadap dirinya. Menurutnya, tuduhan itu tak lain hanyalah
bertujuan untuk mendiskreditkan gerakan mahasiswa. Tapi, ia mengakui
sebagai seorang alumni HMI, ia sering dimintai uang untuk keperluan
para mahasiwa. "Kalau nggak dikasih bisa dibilang pelit," ujar Fuad.
Eggy Sudjana yang juga dituduh sebagai salah seorang sumber dana bagi
para mahasiswa menolak tuduhan atas dirinya, meskipun mengakui bahwa
ia memberi masukan strategi serta menyumbang makanan kecil dan minuman
bagi para mahasiswa. Jika melihat perseteruan berlarut-larut antara
Gus Dur dengan parlemen, gelombang demonstrasi secara bergantian yang
dilakukan mahasiswa di jalan memang seolah-olah cermin dari apa yang
terjadi di tingkat elite.

Suatu hari massa mahasiswa yang tergabung dalam organisasi
kemahasiswaan yang dekat dengan NU akan menggelar demo dukungan pada
Gus Dur, di hari lain organisasi kemahasiswaan yang dekat dengan Akbar
Tanjung menurunkan massa dengan yel-yel meminta Gus Dur mundur.

Menurut Mohamad Qodari dari Institut Studi Arus Informasi (ISAI), para
mahasiswa ini bisa saja menyebut dirinya independen, namun dalam
kenyataan mereka terjebak oleh polarisasi yang sedang terjadi di
tingkat elite. Dan setiap kali mereka menempatkan diri sebagai
pendukung para politisi, gerakan mahasiswa akan semakin
terpecah-belah. Bisa saja mereka menjadi agen untuk perubahan politik,
tapi tidak lagi sebagai agen reformasi politik. Bagi kebanyakan
aktivis, ide bahwa gerakan mahasiswa adalah murni gerakan moral,
seolah-olah hanya merupakan mitos. Buktinya, seperti dikemukakan
Irmansyah asal UI, di tahun 1966, mahasiswa juga menyebut diri mereka
gerakan moral ketika membantu menumbangkan Soekarno dari kekuasaannya.
Namun, pada akhirnya, para tokoh demonstran massa dan sebagian lagi
yang terlibat dalam Malari 1974 telah menjadi politisi, sebagaimana
halnya Akbar Tanjung serta Theo Sambuaga yang telah puluhan tahun
menikmati fasilitas sebagai politisi Golkar.

Itu sebabnya, muncul kekhawatiran bahwa para mahasiswa yang kini
terlibat dalam aksi mendukung dan menentang Gus Dur, pada akhirnya
hanya ingin menjadi Akbar Tanjung atau Theo Sambuaga baru. Hal ini
amat memungkinkan, mengingat organisasi-organisasi kemahasiswaan yang
terlibat dalam demo-demo belakangan ini, amat terkait dengan
partai-partai politik yang sekarang sedang eksis. Misalnya, HMI
dikenal dekat dengan Akbar Tanjung dan Golkar, KAMMI dikenal dekat
dengan Partai Keadilan serta PMII yang dekat dengan PKB. Kalau begitu,
kita lihat saja sepak terjang para tokoh mahasiswa saat ini dalam
beberapa tahun ke depan.

Gerakan Mahasiswa (By Pricillia Triyuanita Dewi)

Pembicaraan tentang mahasiswa dan gerakannya sudah lama menjadi pokok bahasan dalam berbagai kesempatan pada hampir semua
kalangan masyarakat. Begitu banyaknya forum-forum diskusi yang diadakan, telah menghasilkan pula berbagai tulisan, makalah, maupun buku-buku yang diterbitkan tentang hakikat, peranan, dan kepentingan gerakan mahasiswa dalam pergulatan politik kontemporer di Indonesia. Terutama dalam konteks kepeduliannya dalam merespon masalah-masalah sosial politik yang terjadi dan berkembang di tengah masyarakat. Bahkan, bisa dikatakan bahwa gerakan mahasiswa seakan tak pernah absen dalam menanggapi setiap upaya depolitisasi yang dilakukan penguasa. Terlebih lagi, ketika maraknya praktek-praktek ketidakadilan, ketimpangan, pembodohan, dan penindasan terhadap rakyat atas hak-hak yang dimiliki tengah terancam. Kehadiran gerakan mahasiswa sebagai perpanjangan aspirasi rakyat dalam situasi yang demikian itu memang sangat dibutuhkan sebagai upaya pemberdayaan kesadaran politik rakyat dan advokasi atas konflik-konflik yang terjadi pada penguasa. Secara umum, advokasi yang dilakukan lebih ditujukan pada upaya penguatan posisi tawar rakyat maupun tuntutan-tuntutan atas konflik yang terjadi menjadi lebih signifikan. Dalam memainkan peran yang demikian itu, motivasi gerakan mahasiswa lebih banyak mengacu pada panggilan nurani atas kepeduliannya yang mendalam terhadap lingkungannya serta agar dapat berbuat lebih banyak lagi bagi perbaikan kualitas hidup bangsanya.
Dengan demikian, segala ragam bentuk perlawanan yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa lebih merupakan dalam kerangka melakukan koreksi atau kontrol atas perilaku-perilaku politik penguasa yang dirasakan telah mengalami distorsi dan jauh dari komitmen awalnya dalam melakukan serangkaian perbaikan bagi kesejahteraan hidup rakyatnya. Oleh sebab itu, peranannya menjadi begitu penting dan berarti tatkala berada di tengah masyarakat. Karena begitu berartinya, sejarah perjalanan sebuah bangsa pada kebanyakan negara di dunia telah mencatat bahwa perubahan sosial (social change) yang terjadi hampir sebagian besar dipicu dan dipelopori oleh adanya gerakan perlawanan mahasiswa.
Alasan utama mengapa penulis menempatkan gerakan mahasiswa dalam tulisan ini adalah tidak lain karena peran gerakan mahasiswa tersebut sebagai pelopor dan penggerak dalam membela rakyat dari berbagai tirani dan segala bentuk ketimpangan yang terjadi di Indonesia. Mahasiswa dan gerakannya yang senantiasa mengusung panji-panji keadilan, kejujuran, selalu hadir dengan ketegasan dan keberanian. Walaupun memang tak bisa dipungkiri, faktor pemihakan terhadap ideologi tertentu turut pula mewarnai aktifitas politik mahasiswa yang telah memberikan kontribusinya yang tak kalah besar dari kekuatan politik lainnya. Mahasiswa yang merupakan sosok pertengahan dalam masyarakat yang masih idealis namun pada realitasnya terkadang harus keluar dari idealitasnya. Pemihakan terhadap ideologi tertentu dalam gerakan mahasiswa memang tak bisa dihindari. Pasalnya, pada diri mahasiswa terdapat sifat-sifat intelektualitas dalam berpikir dan bertanya segala sesuatunya secara kritis dan merdeka serta berani menyatakan kebenaran apa adanya. Sebuah konsep yang cukup ideal bagi sebuah pergerakan mahasiswa walau tak jarang pemihakan-pemihakan tersebut tidak pada tempatnya.
Pada mahasiswa kita mendapatkan potensi-potensi yang dapat dikualifikasikan sebagai modernizing agents. Praduga bahwa dalam kalangan mahasiswa kita semata-mata menemukan transforman sosial berupa label-label penuh amarah, sebenarnya harus diimbangi pula oleh kenyataan bahwa dalam gerakan mahasiswa inilah terdapat pahlawan-pahlawan damai yang dalam kegiatan pengabdiannya terutama didorong oleh aspirasi-aspirasi murni dan semangat yang ikhlas. Kelompok ini bukan saja haus edukasi, akan tetapi berhasrat sekali untuk meneruskan dan menerapkan segera hasil edukasinya itu, sehingga pada gilirannya mereka itu sendiri berfungsi sebagai edukator-edukator dengan cara-caranya yang khas.
Masa selama studi di kampus merupakan sarana penempaan diri yang telah merubah pikiran, sikap, dan persepsi mereka dalam merumuskan kembali masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya. Kemandegan suatu ideologi dalam memecahkan masalah yang terjadi merangsang mahasiswa untuk mencari alternatif ideologi lain yang secara empiris dianggap berhasil. Maka tak jarang, kajian-kajian kritis yang kerap dilakukan lewat pengujian terhadap pendekatan ideologi atau metodologis tertentu yang diminati. Tatkala, mereka menemukan kebijakan publik yang dilansir penguasa tidak sepenuhnya akomodatif dengan keinginan rakyat kebanyakan, bagi mahasiswa yang committed dengan mata hatinya, mereka akan merasa "terpanggil" sehingga terangsang untuk bergerak.
Dalam kehidupan gerakan mahasiswa terdapat jiwa patriotik yang dapat membius semangat juang lebih radikal. Mereka sedikit pun takkan ragu dalam melaksanakan perjuangan melawan kekuatan tersebut. Berbagai senjata ada di tangan mahasiswa dan bisa digunakan untuk mendukung dalam melawan kekuasaan yang ada agar perjuangan maupun pandangan-pandangan mereka dapat diterima. Senjata-senjata itu, antara lain seperti petisi, unjuk rasa, boikot atau pemogokan, hingga mogok makan. Dalam konteks perjuangan memakai senjata-senjata yang demikian itu, perjuangan gerakan mahasiswa jika dibandingkan dengan intelektual profesional, lebih punya keahlian dan efektif.
Kedekatannya dengan rakyat terutama diperoleh lewat dukungan terhadap tuntutan maupun selebaran-selebaran yang disebarluaskan dianggap murni pro-rakyat tanpa adanya kepentingan-kepentingan lain mengiringinya. Adanya kedekatan dengan rakyat dan juga kekuatan massif mereka menyebabkan gerakan mahasiswa bisa bergerak cepat berkat adanya jaringan komunikasi antar mereka yang aktif layaknya bola salju, semakin lama semakin besar. Oleh karena itu, sejarah telah mencatat peranan yang amat besar yang dilakukan gerakan mahasiswa selaku prime mover terjadinya perubahan politik pada suatu negara. Secara empirik kekuatan mereka terbukti dalam serangkaian peristiwa penggulingan, antara lain seperti : Juan Peron di Argentina tahun 1955, Perez Jimenez di Venezuela tahun 1958, Soekarno di Indonesia tahun 1966, Ayub Khan di Paksitan tahun 1969, Reza Pahlevi di Iran tahun 1979, Chun Doo Hwan di Korea Selatan tahun 1987, Ferdinand Marcos di Filipinan tahun 1985, dan Soeharto di Indonesia tahun 1998. Akan tetapi, walaupun sebagian besar peristiwa penggulingan kekuasaan itu bukan menjadi monopoli gerakan mahasiswa sampai akhirnya tercipta gerakan revolusioner. Namun, gerakan mahasiswa lewat aksi-aksi mereka yang bersifat massif politis telah terbukti menjadi katalisator yang sangat penting bagi penciptaan gerakan rakyat dalam menentang kekuasaan tirani untuk mengubah kondisi menjadi lebih baik.

Gerakan Mahasiswa (By Palguna Rangga Putra)

Gerakan mahasiswa di Indonesia adalah kegiatan kemahasiswaan yang ada di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang dilakukan untuk meningkatkan kecakapan, intelektualitas dan kemampuan kepemimpinan para aktivis yang terlibat di dalamnya.
Dinamika pergerakan Mahasiswa
Dinamika pergerakan mahasiswa memang selalu menarik untuk kita bahas dan kita diskusikan. Mengapa? Karena kemerdekaan Indonesia dari penjajahan tidak lepas dari perjuangan mahasiswa pula. Lahirnya gerakan pemuda dan mahasiswa bernama Budi Utomo turut membidani kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 yang pada beberapa hari lagi, tanggal 17 Agustus 2009 kita akan memperingatinya hari lahir kemerdekaan Indonesia yang ke-64. Kemerdekaan ini tentu tidak kita
raih dengan mudah, sehingga kita tetap harus mempertahankannya.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan organisasi mahasiswa pertama. Mereka menyatakan organisasi ini independen terhadap partai Islam dan organisasi keagamaan besar Islam seperti NU dan Muhammadiyah. Sebagai organisasi mahasiswa, HMI tidak bercorak politik melainkan suatu organisasi kader yang bersifat intelektual, walaupun dalam perang kemerdekaan, banyak diantara anggotanya, seperti Ahmad Tirtosudiro, melibatkan diri dalam perjuangan bersenjata.
Berkembangnya organisasi dan gerakan mahasiswa baru terus terjadi, ketika telah terbentuk basis sosial yang cukup luas. Setelah HMI, muncul organisasi-organisasi mahasiswa ekstra kampus yang mengikuti pola ideologis, seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), yang berpaham nasionalisme Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (SGMI) yang berhaluan komunis, Perkumpulan Mahasiswa Muslimin Indonesia (PMII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Perkumpulan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMSOS), dan terakhir Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang lahir pada era reformasi tahun 1998.
Apa sesungguhnya peran Mahasiswa? Jack Newfield, pada waktu membahas fenomena gerakan mahasiswa '60-an, menyebut kelompok minoritas mahasiswa tersebut sebagai kelompok "a prophetic minority". Mahasiswa adalah kelompok minoritas dalam masyarakat bangsa. Bahkan para aktivis yang disebut kaum radikal baru itu hanyalah minoritas juga dalam populasi mahasiswa. Tetapi mereka memainkan peranan yang profetik. Mereka melihat jauh ke depan dan memikirkan apa yang tidak atau dipikirkan masyarakat umumnya. Dalam visi mereka, nampak suatu kesalahan mendasar dalam masyarakat dan mereka menginginkan sebuah perubahan.
Jika kita melihat keadaan gerakan mahasiswa saat ini sudah kehilangan pamor. Ditambah kondisi sebagian besar mahasiswa yang berfikir mengenai kesempatan kerja mereka sendiri dimasa depan yang tidak mudah diperoleh dan mungkin juga tidak menentu. Menghadapi masalah ini, mereka berfikir pragmatis dan berfikir a-politis. Apabila mereka berfikir pragmatis, maka mereka enggan melakukan kegiatan intelektual atau aksi sosial, baik didalam, apalagi diluar kampus.

Kondisi gerakan mahasiswa saat ini sudah diprediksi jauh-jauh hari oleh Denny JA. Dalam bukunya "Gerakan Mahasiswa dan Politik Kaum Muda era 80-an", bahwa gerakan mahasiswa akan berakhir ketika sistem politik dalam negeri dibuat semakin terlembaga dengan mekanisme kontrol yang berjalan dengan baik. Kontrol tersebut dilakukan baik melalui kontrol internal oleh sesama lembaga resmi, maupun kontrol eksternal oleh berbagai kekuatan masyarakat seperti pers.
Dalam sistem yang terlembaga di atas, gerakan mahasiswa niscaya kehilangan konteksnya. Jika konteks itu hilang, sekeras apapun doktrin politik yang dilakukan untuk membangkitkan gerakan mahasiswa, gerakan mahasiwa pun hanya akan mengambang.Fungsi kritik sosial sudah diambil oleh DPR, Pers, LSM-LSM yang memonitor kinerja pemerintah seperti: Indonesian Corruption Watch (ICW), Koalisi Anti Utang (KAU) dll.
Ruang Kosong Gerakan Mahasiswa
Tawuran. Itulah berita aktivitas mahasiswa yang belakangan muncul di media massa. Entah itu di Jakarta ataupun Makassar, sebagian mahasiswa memperlihatkan sikap tercela kepada koleganya atau masyarakat setempat.
Ironisnya, peristiwa yang bahkan sampai menimbulkan korban jiwa itu dipicu oleh masalah sepele yang jauh dari sikap intelektual, seperti ketersinggungan akibat kampusnya berdekatan atau mewarisi tradisi seniornya.
Sejumlah tawuran itu terjadi hanya sekitar enam bulan menjelang Pemilu 2009, yang diprediksi sebagai akhir dari era tokoh-tokoh penting di awal reformasi atau akhir Orde Baru, seperti Megawati Soekarnoputri, Jusuf Kalla, Wiranto, Abdurrahman Wahid, dan Sultan Hamengku Buwono X.
Muncul pertanyaan, bagaimana kepemimpinan bangsa ini ke depan jika mahasiswanya sibuk berkelahi? Sementara militer, yang selama ini menjadi salah satu sumber kepemimpinan, sudah didorong untuk menjadi tentara profesional dan bukan lagi tentara politik atau bisnis.
Kekhawatiran itu makin besar karena di saat bersamaan, aktivitas kelompok mahasiswa yang selama ini dikenal banyak menghasilkan kader-kader pemimpin, baik di bidang politik maupun sosial, makin kurang terdengar.
Kelompok Cipayung, misalnya, merupakan kelompok mahasiswa yang lahir dari sebuah diskusi bertema ”Indonesia yang Kita Cita-citakan” pada 19-22 Januari 1972. Anggota kelompok itu adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Dua tahun kemudian, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) turut bergabung.
Kemunduran aktivitas diduga terjadi pada organisasi mahasiswa di dalam kampus. Misalnya senat atau dewan mahasiswa yang pernah menelurkan tokoh seperti anggota DPR, Rama Pratama (Universitas Indonesia), Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan (Universitas Gadjah Mada), dan menteri dan pengusaha Aburizal Bakrie (Dewan Mahasiswa ITB).
Nasib yang lebih kurang sama juga terjadi dengan gerakan mahasiswa di luar kampus, seperti parlemen jalanan yang dahulu dilakukan fungsionaris PDI-P, Budiman Sudjatmiko.

Pergerakan Mahasiswa (By : Grace Noella)

“Suatu perubahan sosial dapat terjadi jika adanya suatu kesadaran dari masyarakat untuk berubah dan melakukan perlawanan terhadap kekuasaan yang tidak berpihak kepada rakyat. Tugas seorang kaum intelektual muda tidak hanya berorientasi kepada edukasi saja, tetapi juga sebagai pelopor pembela rakyat sebagai tanggung jawab moral kepada bangsa, dan salah satu caranya ialah melakukan perlawanan.”

“Mahasiswa memiliki pengaruh yang besar terhadap perubahan politik yang terjadi di bangsa Indonesia”, pernyataan ini muncul karena adanya babak demi babak pergerakan mahasiswa yang mampu menumbangkan kekuasaan rezim seperti di tahun 1966 dan tahun 1998. Dengan semangat yang tak pernah padam para mahasiswa meneriakkan aspirasi mereka dengan turun ke jalan, seperti yang terjadi pada tahun 1998, saat itu gedung MPR di penuhi manusia berpakaian almamater dari berbagai kampus di ibu kota. Kedekatan mahasiswa dengan para rakyat dan melawan segala bentuk penindasan, pembodohan, serta menolak kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat menjadi latar belakang dari aksi-aksi mereka. Bisa dikatakan pergerakan mahasiswa tidak pernah absen menanggapi situasi-situasi sebagai bentuk dari hasil kekuasaan yang bersifat tirani dari pemerintah. Mahasiswa berontak karena ketidakadilan akibat kekuasaan pemerintah yang menyengsarakan rakyatnya.

Meskipun kekuatan dari aksi-aksi mahasiswa berorientasi pada aksi massa saja, tetapi dengan kolektifitas mereka mampu menunjukkan kepada bangsa Indonesia bahwa mahasiswa ialah suatu generasi muda yang peduli terhadap problem-problem yang terjadi. Pergerakannya merupakan perpanjangan dari aspirasi rakyat sebagai bentuk keikutsertaan masyarakat terhadap kelangsungan politik bangsa. Sebagai insan intelektual, mahasiswa tidak hanya berfokus pada edukasi yang diperoleh di kampus mereka saja, mereka memiliki tanggung jawab lain yaitu sebagai pelopor pembela rakyat yang tertindas, dengan pola pikir yang kritis dari mereka mampu mengkritisi pihak pemerintah yang menyengsarakan rakyat. Perlawanan yang dilakukan merupakan bentuk dari koreksi dan kontrol dari sistem pemerintahan yang berlaku. Mahasiswa juga disebut sebagai agen perubahan sosial ( social change ) karena mampu merubah keadaan sosial di suatu negara.

Pergerakan Mahasiswa (By : Restialopa)

Mahasiswa, merupakan status tertinggi dalam tingkat pendidikan. Sebutan tersebut ditujukan kepada para pelajar yang belajar di perguruan tinggi. Predikat ini juga seolah menjadikan mahasiswa sebagai pelaku perubahan ke arah yang lebih baik di lingkungan sekitarnya. Dengan menyandang status tersebut, maka mahasiswa telah membawa tanggung jawab sosial bukan hanya bagi dirinya sendiri, tapi juga bagi lingkungannya. Mahasiswa sendiri merupakan bagian dari kehidupan sosial, yang mengandung masalah yang sangat kompleks. Sehingga, tidak ada alasan bagi mahasiswa untuk tidak ikut merasakan kompleksitas permasalahan tersebut. Kompleksitas itu lah yang melahirkan pergerakan mahasiswa sebagai tanggapan dari berbagai permasalahan yang ada.

Sebagian besar orang berpandangan bahwa pergerakan mahasiswa hanyalah demonstrasi turun ke jalan dan menyuarakan aspirasi mereka. Bagi mereka, mahasiswa yang tidak berpartisipasi dalam berbagai kegiatan mahasiswa tidak digolongkan ke dalam agen perubahan. Mahasiswa yang hanya mengikuti sesi pembelajaran di kelas, sedikit melakukan sosialisasi, lalu pulang ke rumah atau tempat kost, itu dianggap membuang-buang waktu dan menyia-nyiakn masa-masa menjadi mahasiswa. Namun pendapat tersebut tidak seluruhnya benar.

Pandangan ini bisa jadi didasarkan pada kondisi nyata yang tampak pada beberapa tahun terakhir ini. Banyak aksi demonstrasi yang dilakukan oleh para mahasiswa, sebagai bentuk tanggapan terhadap masalah yang terjadi di Indonesia. Sesungguhnya, aksi demonstrasi hanyalah salah satu bentuk riil dari pergerakan mahasiswa dalam menanggapi berbagai penyimpangan dalam kehidupan sosial untuk melahirkan suatu perubahan kearah yang lebih baik. Jadi, apapun bentuk tindakan yang dilakukan oleh mahasiswa selama mengandung tujuan dan dilakukan dengan langkah yang positif semua itu dapat digolongkan ke dalam pergerakan mahasiswa.

Jika ada mahasiswa yang menghabiskan masa kuliahnya tanpa berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan tertentu, maka bukan berarti mahasiswa tersebut tidak perduli dengan kondisi sekitarnya. Justru ia bersikap demikian karena ia peduli dengan keadaan yang ada.

Mahasiswa hidup dikelilingi oleh orang-orang yang berbeda. Keluarga, teman, saudara, dan orang-orang yang ada disekitar lingkungannya adalah bagian penting dari kompleksitas kehidupan sosial. Setiap orang yang mengelilinginya tersebut memiliki tuntutan yang berbeda. Pada saat ini lah, seorang mahasiswa di tuntut untuk mampu melakukan sesuatu yang menjadi prioritas utamanya.

Saat ini, pendidikan bisa dikategorikan ke dalam barang langka (economic good). Untuk mendapatkan pendidikan setiap orang harus berkorban dan membayar dengan harga mahal. Inilah salah satu faktor penyebab sebagian mahasiswa memilih untuk datang ke kampus, menghabiskan waktu di kelas, dan kembali ke rumah/kos setelah sesi kelas selesai. Biaya pendidikan menuntut mahasiswa untuk berpikir panjang dalam menghabiskan waktunya. Mahasiswa-mahasiswa seperti ini lebih memilih untuk dapat menyelesaikan kuliah dengan baik dan secepat mungkin.

Contoh sikap mahasiswa di atas bukanlah sikap seorang mahasiswa yang tidak perduli dengan keadaan di sekitarnya. Namun, dia lebih memilih cara lain untuk menjalankan misi perubahan ke arah yang lebih baik dan memberikan yang terbaik yang ia miliki bagi keluarga dan orang-orang disekitarnya. Dan tindakan ini juga termasuk ke dalam pergerakan mahasiswa.

Jadi, tidak berarti bahwa pergerakan mahasiswa hanya dapat dilakukan dengan aksi demo, dan sebagainya. Justru bila kita lihat saat ini, aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa dengan turun ke jalan cenderung tidak efektif dan mengandung anarkisme.

Selasa, 08 September 2009

Do Less, Talk More

Inilah Mahasiswa Indonesia !!

Terlalu banyak bicara.
Mungkin kita sudah muak dengan banyaknya aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahassiswa. dalam benak penulis, apakah tidak ada cara lain selain berdemonstrasi ?
Sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi tentu ada cara lain selain berdemonstrasi. salah satunya adalah melakukan lobi dan sering bernegosiasi, toh tidak ada salahnya juga melakukan hal demikian.
Banyak yang menyebut turunnya mantan presiden indonesia yang otoriter dan kini sudah terbujur kaku di pemakaman adalah oleh ulah mahasiswa. demikiankah ?
menurut penulis tidak. lengsernya presiden Soeha**o dikarenakan gencarnya media dalam memberitakan kekejaman yang dilakukannya.
Media memegang peranan penting dalam kemajuan negara ini. tanpa media mungkin kita akan kesulitan dalam mencari informasi. jadi tidak ada salahnya kalau saya menyebut media sebagai pemegang peranan penting dalam kehidupan dan bukan mahasiswa !
Apabila dibandingkan dengan pendahulunya. mahasiswa sekarang lebih MANJA, EGOIS, dan terlalu banyak bicara. menurut saya ini suatu gerakan regresif yang memulai sebuah kemunduran dalam semua aspek kehidupan.
Semoga saja mahasiswa dapat menyadari ini. Mari kita buktikan dengan prestasi demi menjaga kehormatan mahasiswa Indonesia.
Jangan cuma Bicara, BUKTIKAN !

Frasetya Vady Aditya
210110090216
S1 ILMU KOMUNIKASI

Pergerakan Mahasiswa (By Tina Yuliani)

Teriakan berantas kebodohan, menggelikan ketika keluar dari mulut mahasiswa bodoh! Mahasiswa pemalas yang tidak bebas dari penyakit finansial, absurd ketika berteriak bebaskan rakyat dari kemiskinan! Mahasiswa koruptor jam kuliah, tidak pantas berteriak anti-korupsi!

Adalah tiga kalimat pembuka dari diskusi yang saya sampaikan, ketika diminta mengisi acara halal bihalal KAMMI Pusat, sekaligus launching KAMMI Online di Senayan, Jakarta, pada hari Sabtu, 18 Oktober 2008. Kebetulan acara ini juga dihadiri pengurus berbagai organisasi mahasiswa lain. Jadi kami gunakan kesempatan ini untuk melakukan diskusi, kritik dan sekaligus membuka wacana teman-teman mahasiswa aktifis organisasi pergerakan mahasiswa bahwa era sudah berubah.

Perlu kita pahami bersama bahwa masyarakat sudah sangat resistence dengan teriakan-teriakan idealis tanpa pelaksanaan yang sering mahasiswa lakukan. Rakyat perlu teladan, rakyat perlu studi kasus, rakyat perlu success story, dan rakyat perlu know-how yang kita milikia. Dengan memanfaatkan berbagai solusi praktis dan nyata yang kita dapatkan dari bangku kuliah maupun pengalaman lapangan, diharapkan dapat membantu masyarakat untuk menyelesaikan masalah yang semakin menumpuk. Pergerakan mahasiswa di era dunia datar harus lebih cerdas, lebih efektif, sehingga energi dan biaya yang kita miliki tidak mubadzir dan bisa dialokasikan untuk berbagai kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Teknologi informasi khususnya Internet dengan jumlah pengguna yang semakin besar di Indonesia bisa menjadi satu alternatif teknologi pendukung pergerakan mahasiswa.